ARSITEKTUR PASCA KEMERDEKAAN SOEHARTO

LATAR BELAKANG BUDAYA

Soeharto dilahirkan di desa Kemusuk, Jawa Tengah. Sebagai orang Jawa, ia sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa yang cukup kental dan membuatnya akrab dengan rumah adat khas Jawa Tengah yaitu rumah Joglo. Penderitaan hidup membuatnya tabah dan tahan dan juga berhati-hati untuk bergantung dengan orang lain dalam banyak hal. Ia juga lebih menyukai hubungan dekat dengan beberapa orang saja di mana ia menjadi tokoh dominannya. Penderitaan materi dan emosional Soeharto di masa kecil dan masa muda membentuk pemikiran yang introspektif dan mandiri.

            Soeharto adalah orang yang sederhana namun juga kompleks. Secara intelektual, wawasannya sempit dan sederhana, hal ini disebabkan oleh pendidikannya yang terbatas. Ia juga tidak mempunyai kebiasaan membaca, merenung ataupun membuat suatu teori.

            Gaya pemikiran Soeharto ditandai oleh perenungan, penghitungan dan penguasaan batin (“mendekatkan batin kita dengan pencipta kita”) yang menampakkan dirinya dalam aturan-aturan moral maupun praktis tertentu. Struktur kepribadian dan emosinya, susunan kerangka berpikirnya, serta persepsinya tentang makna dan arah historis memang sangat dipengaruhi oleh adat dan kepercayaan Jawa.

            Banyak contoh mengenai sifat Kejawaan dari Soeharto, seperti ia mewakili sosok lama era para raja kuno Jawa yang terpengaruh oleh konsep-konsep feodal kuno. Secara sadar ataupun tidak, ia tampaknya berupaya mereorganisasi Indonesia yang modern menjadi seperti kerajaan Jawa, baik dalam bentuk dan juga semangatnya. (Sumber: https://rizkibulsarra.wordpress.com/soeharto-dan-tradisionalisme-jawa/)

Arsitektur Post-Modern Dan Soeharto

Soeharto menyebutkan pendapatnya mengenai arsitektur post-modern. Namun begitu, arsitektur yang mengedepankan regionalisasi yang berkembang pada masanya adalah salah satu karakter ekspresi dobrakan yang dilakukan arsitektur post-modern kepada arsitektur modern.

            arsitektur post modern berkembang di akhir abad ke 20. post modern merupakan pemahaman idealisme barat yang berlandaskan dari pemikiran skeptis, subjektif atau relativitas. post modern merupakan kecurigaan terhadap alasan-alasan yang berkembang dalam pemikiran general manusia. post modern adalah sensitifitas pada ideologi dalam memberikan kontrolnya pada politik dan ekonomi.

pada awalnya post modern merupakan suatu pemikiran tentang ideologi, tentang pemahaman, tentang keyakinan seseorang untuk dapat melakukan perubahan.

            dalam sudut pandang filosofi, post modern adalah suatu perlawanan terhadap pemikiran modern yang berkembang di negara maju, terutama eropa. gerakan ini dimulai sekitar abad ke 16-17 sampai dengan pertengahan abad ke 20 masehi. tentunya pemikiran ini tidak dapat ditolak begitu saja karena sudah banyak propaganda yang bergerak memberi pemahaman tersebut, pada masanya di kenal sebagai “enlightenment” ( masa pencerahan), sekitar abad ke 18. ( Sumber: https://virtualarsitek.wordpress.com/artikel/sejarah-arsitektur/tipologi-arsitektur/arsitektur-post-modern/ )

du-haut-eksterior

Gambar: Gereja Notre Dame Du Haut

Sumber: https://kataokita.wordpress.com/tag/notre-dame-du-haut/

Layaknya arsitektur yang berkembang pada masa soeharto yang mengedepankan tradisi bangsa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesesuaian karakter antara post-modern dengan arsitektur gagasan Soeharto. Namun hal ini hanya sebuah indikasi dalam bidang arsitektur dan bukan berarti menunjukkan pemikiran beliau mutlak didasari atas pemikiran post-modern. Bahwa karya arsitektur pada masa soeharto bertitik tolak pada regionalisasi yang merupakan juga salah satu cirri khas arsitektur post-modern.

Standar

TEMPAT IBADAH VIHARA

TEMPAT IBADAH VIHARA

Sejarah

Untitled

Agama Buddha diperkenalkan di Jepang pada abad ke-6 setelah ketika para bhiksu Cina melakukan perjalanan ke Jepang sembari membawa banyak kitab-kitab suci dan karya seni. Agama Buddha lalu dipeluk menjadi agama negara pada abad selanjutnya.

            Karena secara geografis terletak pada ujung Jalur Sutra, Jepang bisa menyimpan banyak aspek agama Buddha ketika agama ini mulai hilang dari India dan ditindak di Asia Tengah serta Tiongkok.

            Dari kurang lebih tahun 710 banyak sekali kuil dan vihara dibangun di ibu kota Nara, seperti pagoda lima tingkat dan Ruang Emas Horyuji, atau kuil Kofukuji. Banyak sekali lukisan dan patung dibuat sampai tak terhitung dan seringkali dengan sponsor pemerintah. Pembuatan seni Buddha Jepang mencapai masa keemasan antara abad ke-8 dan abad ke-13 semasa pemerintahan di Nara, Heian-kyō, dan Kamakura.

            Dari abad ke-12 dan abad ke-13, perkembangan lebih lanjut ialah seni Zen, mengikuti perkenalan aliran ini oleh Dogen dan Eisai setelah mereka pulang dari China. Seni Zen sebagian besar memiliki ciri khas lukisan asli (seperti sumi-e dan ensō) dan puisi (khususnya haiku). Seni ini berusaha keras untuk mengungkapkan intisari sejati dunia melalui gaya impressionisme dan gambaran tak terhias yang tak “dualistik”. Pencarian untuk penerangan “sesaat” juga menyebabkan perkembangan penting lain sastra derivatif seperti upacara minum teh atau ikebana. Perkembangan ini sampai sejauh pendapat bahwa setiap kegiatan manusia merupakan sebuah kegiatan seni sarat dengan muatan spiritual dan estetika, pertama-tama apabila aktivitas itu berhubungan dengan teknik pertempuran (seni beladiri). Agama Buddha sampai sekarang tetap masih aktif di Jepang. Sekitar 80.000 kuil-kuil Buddha masih dipelihara secara teratur. ( sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Buddhisme_di_Jepang )

 

Pola Letak Bangunan dalam Vihara Zen Budhisme di Jepang

Penatan pola letak bangunan di dalam komplek vihara Zen Budhisme disusun dalam satu aksis tunggal menghadap ke arah selatan. Pola letak tersebut merupakan ciri khas yang diambil dari arsitektur komplek vihara yang terdapat di Cina. Pada periode dinasti T’ang (618-907), arsitektur dari vihara-vihara Budha di Cina telah berkembang di dalam penataan pola ruangnya. Kemudian dipergunakan sebagai dasar perancangan untuk lingkungan komplek vihara Zen pada periode dari dinasti Sung, terutama dalam komplek vihara Zen yang masuk ke dalam ranking “lima vihara besar”. Pola letak dari komplek vihara T’en-t’ung dan Pei di Cina mempunyai arti khusus dalam pengaruhnya, dan dapat diketemukan pada komplek vihara-vihara di Jepang (Dumoulin 1988b:223). Pada umumnya, yang sangat mengagumkan dari budaya Zen adalah terlihat jelas dalam letak pola ruang dan bentuk arsitektur dari vihara-vihara tersebut. Pola dasar dari komplek vihara Kencho-ji dan Tofuku-ji, adalah merupakan model yang mengagumkan dari struktur T’en-t’ung-shan di Cina (Dumoulin 1988b:224). (Gambar 1)

1      2

Gambar 1. Bentuk dasar denah dari komplek vihara Kencho-ji dan Tofuku-ji (Shimanoka 1960).

Sejak ciri-ciri utama dari Ch’an atau Zen kembali pada sebuah kehidupan yang keras di dalam komplek vihara, maka ruang-ruang pemujaan dirancang hanya untuk menampung tempat berkumpul para bhiku. Pola ruang dan letak bangunan tersebut dapat memeprtahankan tradisi arsitektur Cina dalam bentuk penataan yang simitri dan sederhana. Ruang besar telah digunakan tanpa banyak variasi untuk kedua aksis bangunan utama, sanmon (pintu gerbang), butsuden (ruang Budha), dan hatto (ruang Dharma). Pertama, adalah dari sanmon, sanmon di sini bukan berarti “tiga gerbang”, tetapi adalah untuk sangedatsumon “gerbang dari tiga kebebasan” (Vimokchas) yang mana salah satunya akan masuk ke nirvana. Sebagai pusat dari kegiatan ibadah adalah sebuah altar dengan patung Budha terdapat di dalam butsuden. Berikutnya sebuah altar tempat memberikan pelajaran yang dihubungkan dengan tangga serta tempat duduk untuk bhiku kepala terdapat di dalam hatto. Berdiri aksis pada bagian belakang dari mimbar dengan sebuah partisi di belakangnya (Paine & Soper 1955:241). Pola letak dari bangunan tersebut pada kenyataannya sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari di dalam komplek vihara. Menurut versi Cina, pola letak dari komplek vihara Zen baik peraturan maupun tata kehidupan vihara beserta arsitekturnya, telah dirancang oleh Pai-chang (720-814). Pai-chang, adalah yang pertama kali memformulasikan pola letak bangunan dan peraturan untuk para bhiku Zen, Dengan demikian menjamin kebebasan dari sekolah ataupun aliran Budhis lainnya.

            Pada dasarnya letak denah dari komplek vihara telah ada sejak Confucianisme di Cina, dan dapat diketemukan pada setiap kota waktu itu. Kemungkinan bahwa pola letak denah dari vihara Zen yang terdapat di dalam komplek vihara Zen, adalah merupakan imitasi dari pola letak vihara Confucianisme. Perlu diketahui bahwa filosofi dan kepercayaan dari Zen Budhisme merupakan sinkritisasi percampuran antara Taoisme dan Confucianisme, demikian juga dalam menentukan letak denah dari komplek viharanya. Denah selalu sama, tiga bangunan berjajar ke arah selatan menghadap ke utara, kecuali pada kasus lain bangunan ke tiga terletak di sebelah timur dari bangunan kedua. Bangunan yang utama terletak di sebelah utara dari bangunan kedua (Wiliams 1988:84). Pada kasus yang terdapat di dalam denah letak dari “lima komplek vihara Zen” (gozan) yang terdapat di Kyoto, tidak semua dari komplek vihara Zen tersebut   menggunakan pola letak bangunan dalam arah aksis utara-selatan. Sebagai contoh, komplek vihara Nanzen-ji dan Tenryu-ji, menggunakan pola letak bangunan dalam aksis timur-barat. Kedua komplek vihara tersebut memberikan pola letak yang khusus pada komplek vihara Zen, yang mana merupakan salah satu bentuk modifikasi letak baru berbeda dengan tata letak yang terdapat di Cina. Komplek vihara yang lainnya, seperti Kennin-ji, Tofuku-ji, Shokoku-ji serta dua komplek vihara yang tidak masuk ke dalam gozan, adalah Daitoku-ji dan Myoshin-ji mempunyai letak bangunan dengan arah aksis utara-selatan.

Pola letak dari komplek vihara Zen seperti yang dijelaskan di atas, adalah prototipe dari shichido garan (tujuh bangunan dalam komplek vihara). Dapat diketemukan dalam periode dinasti Sung, seperti komplek vihara Tendosan di Cina. (Gambar 2) Pola letak dari sichido garan yang terdapat di Cina, adalah lebih kompleks dibandingkan dengan komplek vihara Zen yang telah berkembang di Jepang. Bangunan pendukung yang mengelilingi bangunan utama merupakan tipikal bangunan pendukung terletak di dalam komplek vihara dan berkembang sejak periode Muromachi. Pada dasarnya, penataan denah bangunan secara langsung merupakan bagian dari upacara keagamaan tempat proses tersebut diikuti satu bangunan di belakang bangunan yang lain, dan dilakukan sepanjang arah aksis utara-selatan.

 3

Gambar 2.

Pola letak denah dan diagram dari komplek vihara Tendosan di Cina dalam periode dinasti Sung.(Hideya1967)

Dikatakan pula di sini bahwa ide penataan denah di dalam vihara Zen, adalah merupakan turunan dari “one corner” style Bayen (Ma Yuan, 1175-1225) pelukis dari Cina, salah satu artis besar dalam dinasti Sung. Prinsip struktur seperti pintu gerbang , ruang Dharma, ruang Budha, diletakkan dalam satu garus lurus; tetapi struktur bangunan pendukung penting lainnya, adalah tidak ditata secara simitri sebagai bagian dari sayap bangunan sepanjang sisi garis utama (Suzuki 1988:36). Di sini “one corner” style berarti sebuah tradisi dari menahan kemungkinan paling sedikit jumlah garis atau goresan yang menuju untuk menggambarkan bentuk-bentuk, dan di dalam seni lukis Jepang dinamakan “goresan yang hemat”. Keduanya dengan spirit dari Zen. Hal tersebut dapat dilihat di dalam goresan dari lukisan Zen selalu berakhir dengan titik, dimaksudkan untuk memberikan ekspresi pada lukisan tersebut. Goresan dari garis-garis merupakan karakteristik yang diturunkan dari filosofi Zen mengenai kehampaan. Apa yang dapat dikatakan menjadi sebuah garis tak terbatas bergema dari sebuah benda yang berakhir pada beberapa titik. Di sini dapat dijelaskan pula tentang hubungan satu garis lurus dari susunan letak bangunan di dalam komplek vihara Zen dengan “one corner” style dari lukisan Ma Yuan. Ada satu garis yang diawali dari pintu gerbang (sanmon) masuk ke dalam ruang Budha (butsuden) dan memberikan titik akhir dari garis tersebut pada ruang Dharma (hatto). Hal ini merupakan ungkapan filosofi dari seni lukis Zen, yang berpengaruh ke dalam pola letak komplek vihara Zen. Seperti sebuah goresan garis yang diturunkan dari lukisan “one corner” style, masuk ke dalam pola letak dari komplek vihara Zen. (Gambar 3) Adalah sama bahwa Budha menggunakan kata-kata dan apa yang ia katakan telah dituliskan ke dalam sutra. Para bhiku di Cina maupun Jepang yang mengikuti ajarannya telah menggunakan seni lukis untuk berkomunikasi dengan massa pengikutnya. Di sini iluminasi dari seni lukis Zen telah memberikan ekspresi arti yang dalam dan juga memberikan pergerakan dirinya di antara massa, kehampaan dan ruang telah tergores dalam

satu garis lurus pada pola letak komplek vihara Zen.

45

Gambar 3. Sebuah analisis mengenai goresan garis yang diturunkan dari lukisan “one corner style”, masuk ke dalam pola letak dari vihara Zen.

Dalam letak denah dari komplek vihara Zen, bangunan utama selalu ditata sepanjang satu garis lurus ke dalam satu arah titik. Ini memberikan sebuah ekspresi adanya tingkatan fisik yang dalam bentuk filosofi dapat dilihat sebagai pergerakan dari sebuah ruang atau space. Hal ini juga merupakan mekanisme dari ruang yang bergerak dengan seluruh elemen fisik termasuk seluruh totalitas dari alam yang semuanya adalah satu. Dengan demikian, letak bangunan dari komplek vihara Zen mempunyai tingkatan yang sangat penting. Bangunan di dalam komplek vihara tersebut juga dapat diartikan sebagai rumah dan tubuh dari Budha. Bagian dari tubuh tersebut dibagi ke dalam tiga bagian adalah kepala (atama), badan (karada) dan kaki (ashi) yang berhubungan dengan letak bangunan di dalam komplek vihara Zen. (Gambar 4)

6

Gambar 4. Korelasi antara bagian tubuh dari Budha dengan bangunan utama pada komplek vihara Zen.

Pola letak bangunan tersebut juga berhubungan dengan tujuh bangunan dalam komplek vihara (sichido garan) tempat dikatakan bahwa letak bangunan dari komplek vihara Zen identik berhubungan dengan analogi pada tubuh manusia. (Gambar 5 dan Gambar 6)

5

Gambar 5. Tujuh bangunan pada analogi tubuh manusia. (Hideya 1967)

8

Gambar 6. Pola letak “tujuh bangunan” di dalam komplek vihara Zen yang berhubungan dengan tubuh manusia. adalah sebagai berikutKeterangan: 1. Pintu gerbang (sanmon); 2. Ruang Budha (butsuden); 3. Ruang Dgarma (hatto); 4. Kakus (tosu); Kamar mandi (yokushitsu); 6. Ruang untuk bhiku (sodo); 7. Dapur (kuri). (Dumoulin 1988b)

Pola letak di atas pada kenyataanya sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dalam komplek vihara Zen. Pertama pintu gerbang (sanmon), ruang Budha (butsuden), dan ruang Dharma (hatto). Penataan ketiga bangunan tersebut merupakan salah satu karakteristik dari satu pergerakan menuju ke dunia lain, dan dapat pula dikatakan bahwa mengunjungi vihara Zen seperti bertamasya ke dunia lain. Penting untuk diketahui bahwa ruang Budha merupakan satu objek yang mempunyai space di tanah dan terletak dalam satu garis lurus antara pintu gerbang dan ruang Dharma, sebagai tempat bagi jemaat sebelum masuk ke dalam ruang Dharma. Bahwa space di sini diperuntukkan bagi jemaat yang berada di dalam ruang Budha (butsuden), melalui sebuah arah garis imaginer sebagai bagian dari posesi ritual jemaat. (Gambar 7)

9

Gambar 7. Ini merupakan space untuk jemaat di dalam ruang Buddha (bustuden), dan arah di atas adalah merupakan posesi ritual dari jemaat.

Standar

RUMAH ADAT NUSANTARA

  • Rumah Adat Baileo Maluku

baileo_maluku2rumah-adat-maluku-baileo

Fungsi rumah:

            Salah satu fungsi rumah adat Baileo adalah tempat untuk berkumpul seluruh warga. Perkumpulan warga di rumah adat Baileo merupakan aktivitas yang dilakukan dalam rangka mendiskusikan permasalahn-permasalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat setempat. Selain itu, tempat ini memiliki fungsi lain yaitu tempat untuk menyimpan benda-benda keramat, tempat upacara adat dan sekaligus tempat untuk bermusyawarah.

            Baileo merujuk pada rumah adat Baileo dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Balai. Pengambilan nama Baileo menjadi nama rumah adat Baileo berdasarkan pada fungsi tempat rumah Baileo itu sendiri sebagai tempat untuk bermusyawarah bagi masyarakat adat atau kelompok-kelompok setempat. Rumah adat Baileo sebagai tempat bermusyawarah masyarakat setempat merupakan wujud demokrasi saat ini yang sudah dilakukan oleh masyarakat dulu di rumah adat Baileo. Musyawarah yang biasa dilakukan di rumah adat tersebut meliputi tetua adat, pimpinan adat, dan masyarakat setempat.

            Makna dan filosofi:

Salah satu dari banyak rumah adat yang memiliki makna sejarah, representasi sebuah komunitas pada zamannya dan kemajuan sebuah peradaban adalah rumah adat Baileo. Rumah adat Baileo adalah Rumah adat di daerah Maluku. Rumah adat Baileo sebagai representasi kebudayaan masyarakat Maluku memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan masyarakat Maluku.

            Rumah adat Baileo merupakan rumah panggung. Posisi lantai berada diatas permukaan tanah. Baileo tidak berdinding hal itu dilakukan merujuk kepada kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa dengan tidak adanya jendela rumah adat Baileo maka roh-roh nenek moyang bebas untuk masuk atau keluar ke rumah Baileo. Hal yang lebih penting adalah dengan tidak adanya jendela maka saat bermusyawarah masyarakat yang melihat dari luar Baileo akan lebih mudah melihat. Lantai balai yang tinggi memiliki arti yaitu agar roh-roh nenek moyang memiliki tempat dan derajat yang tinggi dari tempat berdirinya masyarakat. Selain itu,        masyarakat akan mengetahui bahwa permusyawaratan berlangsung dari luar ke dalam dan dari bawah ke atas. Pamali sebagai tempat persembahan dan bilik pamali sebagai tempat penyimpanan atau tempat meletakan barang-barang keramat masyarakat setempat berada di dekat pintu masuk rumah adat Baileo.

            Pada rumah adat Baileo terdapat banyak ukiran-ukiran bergambar dua ekor ayam berhadapan dan diapit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri kanan. Posisi ukiran ini berada di ambang pintu. Ukiran tersebut mempunyai arti dan perlambang tentang kedamaian dan kemakmuran. Hal itu terjadi karena rog nenek moya yang menjaga masyarakat Maluku. Ukiran lainnya adalah bulan, bintang dan matahari yang berada di atap dengan warna merah-kuning dan hitam. ukiran tersebut melambangkan kesiapan balai adat dalam menjaga keutuhan adat beserta hukum adatnya.( Sumber: http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1031/rumah-baileo).

Struktur:

            Rumah adat Baileo merupakan rumah panggung. Posisi lantai berada diatas permukaan tanah. Baileo tidak berdinding hal itu dilakukan merujuk kepada kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa dengan tidak adanya jendela rumah adat Baileo maka roh-roh nenek moyang bebas untuk masuk atau keluar ke rumah Baileo. Hal yang lebih penting adalah dengan tidak adanya jendela maka saat bermusyawarah masyarakat yang melihat dari luar Baileo akan lebih mudah melihat. Lantai balai yang tinggi memiliki arti yaitu agar roh-roh nenek moyang memiliki tempat dan derajat yang tinggi dari tempat berdirinya masyarakat. Selain itu, masyarakat akan mengetahui bahwa permusyawaratan berlangsung dari luar ke dalam dan dari bawah ke atas. Pamali sebagai tempat persembahan dan bilik pamali sebagai tempat penyimpanan atau tempat meletakan barang-barang keramat masyarakat setempat berada di dekat pintu masuk rumah adat Baileo. (sumber: http://ramzani-naswan.blogspot.com/2014/07/konservasi-arsitektur-rumah-tradisional_19.html)

Struktur dinding dan lantai mengunakan kayu alam
Atap mengunakan bahan alang-alang
Termasuk rumah pangung

baileo2

Ornamen yang khas:

            Bentuk ornamen atau hiasan di rumah adat Beileo memiliki hubungan dengan adat istiadat dan kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku. Negeri-negeri di Maluku memiliki arsitektur Baileo yang berbeda, namun fungsinya sama. Baileo dibuat dengan bahan yang kuat, dan dilengkapi dengan ornamen khas Maluku. Rumah Baileo tak berdinding, hal ini dimaksudkan agar roh nenek moyang dapat leluasa masuk dan keluar rumah Baileo. Rumah Baileo merupakan rumah panggung, yakni posisi lantainya berada di atas permukaan tanah.

Bahan bagunan:

            Baileo itu sebutan atau nama dari rumah adat orang Maluku, dengan bentuk bangunan yang besar, material bangunan sebagian besar berbahan dasar kayu, kokoh dengan cukup banyak ornamen, ukiran yang menghiasi seluruh bagian dari rumah tersebut.

            Tidak seperti halnya fungsi rumah adat pada suku-suku lain di Indonesia, Baileo atau sebutan harfiahnya Balai, merupakan rumah yang di bangun dengan tujuan yang berbeda, bukan sebagai rumah untuk dihuni atau rumah tinggal, melainkan bangunan yang berfungsi untuk Landmark suatu desa bagi orang-orang Maluku (rumah yang di gunakan sebagai tempat kegiatan atau upacara adat bagi warga kampung).

Baileo merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertemuan warga (balai bersama), selain sebagai tempat pertemuan / kegiatan Baileo juga berfungsi untuk menyimpan benda-benda suci, senjata atau pusaka peninggalan dari nenek moyang warga kampung tersebut.

 

  • Rumah adat Honai Papua

 Honai_Papua honai2

Fungsi rumah:

Rumah Honai mempunyai fungsi antara lain:

  • Sebagai tempat tinggal
  • Tempat menyimpan alat-alat perang
  • Tempat mendidik dan menasehati anak-anak lelaki agar bisa menjadi orang berguna di masa depan
  • Tempat untuk merencanakan atau mengatur strategi perang agar dapat berhasil dalam pertempuran atau perang
  • Tempat menyimpan alat-alat atau simbol dari adat orang Dani yang sudah ditekuni sejak dulu

Makna dan filosofi:

Filosofi bangunan Honai yang bentuknya bulat melingkar adalah :

  • Dengan kesatuan dan persatuan yang paling tinggi kita mempertahankan budaya yang telah diperthankan oleh nene moyang kita dari dulu hingga saat ini.
  • Dengan tinggal dalam satu honai maka kita sehati, sepikiran dan satu tujuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
  • Honai merupakan simbol dari kepribadian.

Struktur:

            Honai mempunyai pintu kecil dan jendela-jendela yang kecil. Jendela-jendela ini berfungsi memancarkan sinar ke dalam ruangan tertutup itu. Ada pula Honai yang tidak memiliki jendela, Honai tanpa jendela pada umumnya dipergunakan untuk kaum ibu/perempuan.

            Jika Anda masuk ke dalam honai ini, maka di dalam cukup dingin dan gelap karena tidak terdapat jendela dan hanya ada satu pintu. Pintunya begitu pendek sehingga harus menunduk jika akan masuk ke rumah Honai. Di malam hari menggunakan penerangan kayu bakar di dalam Honai dengan menggali tanah di dalamnya sebagai tungku, selain menerangi bara api juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Jika tidur, mereka tidak menggunakan dipan atau kasur, mereka beralas rerumputan kering yang dibawa dari kebun atau ladang. Umumnya mereka mengganti jika sudah terlalu lama karena banyak terdapat kutu babi.

            Rumah Honai mempunyai tinggi 2,5-5 meter dengan diameter 4-6 meter. Rumah Honai ditinggali oleh 5-10 orang dan rumah ini biasanya dibagi menjadi 3 bangunan terpisah. Satu bangunan digunakan untuk tempat beristirahat (tidur). Bangunan kedua untuk tempat makan bersama dimana biasanya mereka makan beramai-ramai dan bangunan ketiga untuk kandang ternak terutama babi. Rumah Honai juga biasanya terbagi menjadi 2 tingkat. Lantai dasar dan lantai satu di hubungkan dengan tangga yang terbuat dari bambu/kayu. Biasanya pria tidur melingkar di lantai dasar , dengan kepala di tengah dan kaki di pinggir luarnya, demikian juga cara tidur para wanita di lantai satu. Dalam peraturan adat Honai, pria dan wanita (termasuk anak-anak) tidak boleh tidur disatu tempat secara bersamaan hukumnya tabu.

Ornamen yang khas:

            Bentuk Honai yang bulat tersebut dirancang untuk menghindari cuaca dingin ataupun karena tiupan angin yang kencang sehingga rumah yang sederhana ini dapat bertahan bertahun-tahun lamanya.

             Honai memiliki bentuk atap bulat kerucut. Bentuk atap ini berfungsi untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak mengenai dinding ketika hujan turun.

             Atap honai terbuat dari susunan lingkaran-lingkaran besar yang terbuat dari kayu buah sedang yang dibakar di tanah dan diikat menjadi satu di bagian atas sehingga membentuk dome. Empat pohon muda juga diikat di tingkat paling atas dan vertikal membentuk persegi kecil untuk perapian.

             Penutup atap terbuat dari jerami yang diikat di luar kubah. Lapisan jerami yang tebal membentuk atap dome, bertujuan menghangatan ruangan di malam hari. Jerami cocok digunakan untuk daerah yang beriklim dingin. Karena jerami ringan dan lentur memudahkan suku Dani membuat atap serta jerami mampu menyerap goncangan gempa, sehingga apabila terjadi gempa sangat kecil kemungkinan rumah Honai akan roboh. Biarkan dani menjadi milik saya. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dani).

Bahan bangunan:

            Kebiasaaan dari suku atau orang Dani dan Yali dalam membangun Honai yaitu mereka mencari kayu yang memang kuat dan dapat bertahan dalam waktu yang lama atau bertahun-tahun bahkan sampai ratusan tahun. Bahan yang digunakan sebagai berikut:

  • Kayu besi (oopihr) digunakan sebagai tiang penyangga bagian tengah Rumah Honai
  • Kayu buah besar
  • Kayu batu yang paling besar
  • Kayu buah sedang
  • Jagat (mbore/pinde)
  • Tali
  • Alang-alang
  • Papan yang dikupas
  • Papan alas dll.
  • Rumah adat limas Bangka Belitung

palembang10 Rumah-Rakit-Marsudi_large

Cirri khas:

            Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka.

Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman.

Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah.

Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh dari Palembang.

Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.

             Di Bangka Belitung pada umumnya terdapat beberapa macam jenis rumah antara lain adalah rumah panggung, rumah Limas dan rumah Rakit.(sumber: http://budaya-indonesia.org/Rumah-adat-Bangka-Belitung-TMII/)

Bahan bangunan:

            Arsitektur rumah Melayu Awal berujud rumah panggung kayu dimana hampir semua bahan material yang di pakai untuk rumah ini berupa kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang banyak tumbuh dan sangat mudah diperoleh di sekitar pemukiman.   Arsitektur rumah Melayu Awal ini biasanya beratap tinggi dan sebagian atapnya miring. Saat pembangunan rumah yang berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang, dimana bangunan rumah yang didirikan memiliki 9 buah tiang. Tiang utama tempatnya di tengah dan didirikan pertama kali. Kemuduan atap rumah ditutup dengan daun rumbia. Sementara bagian dindingnya biasanya dibuat dari bahan pelepah/kulit kayu atau menggunakan buluh (bambu).

  • Rumah nowou sesat lampung

                Rumah-Limas-Tampak-Depan rumah-adat-lampung       

Cirri khas:

            Rumah adat orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan berjajar sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut bilik, yaitu tempat berdiam buway . Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan teritorial-genealogis yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga.

            Arsitektur lainnya adalah “lamban pesagi” yang merupakan rumah tradisional berbentuk panggung yang sebagian besar terdiri dari bahan kayu dan atap ijuk. Rumah ini berasal dari desa Kenali Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat.. Ada dua jenis rumah adat Nuwou Balak aslinya merupakan rumah tinggal bagi para Kepala Adat (penyimbang adat), yang dalam bahasa Lampung juga disebut Balai Keratun. Bangunan ini terdiri dari beberapa ruangan, yaitu Lawang Kuri (gapura), Pusiban (tempat tamu melapor) dan Ijan Geladak (tangga “naik” ke rumah); Anjung-anjung (serambi depan tempat menerima tamu), Serambi Tengah (tempat duduk anggota kerabat pria), Lapang Agung (tempat kerabat wanita berkumpul), Kebik Temen atau kebik kerumpu (kamar tidur bagi anak penyimbang bumi atau anak tertua), kebik rangek (kamar tidur bagi anak penyimbang ratu atau anak kedua), kebik tengah (yaitu kamar tidur untuk anak penyimbang batin atau anak ketiga).

            Bangunan lain adalah Nuwou Sesat. Bangunan ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin (penyimbang) pada saat mengadakan pepung adat (musyawarah). Karena itu balai ini juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak (tangga masuk yang dilengkapi dengan atap).

            Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan (serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban (ruang dalam tempat musyawarah resmi), ruang tetabuhan (tempat menyimpan alat musik tradisional), dan ruang Gajah Merem ( tempat istirahat bagi para penyimbang) . Hal lain yang khas di rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya (rurung agung), yang berwarna putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun.

            Arsitek tradisinoal Lampung lainnya dapat ditemukan di daerah Negeri Olokgading, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Negeri Olokgading ini termasuk Lampung Pesisir Saibatin .Begitu memasuki Olokgading kita akan menjumpai jajaran rumah panggung khas Lampung Pesisir, dan di sanalah kita akan melihat Lamban Dalom Kebandaran Marga Olokgading, yang menjadi pusat adat istiadat Marga Balak Olokgading. Bangunan ini berbahan kayu dan di depan rumah berdiri plang nama bertuliskan “Lamban Dalom Kebandaran Marga Balak Lampung Pesisir”. Bentuknya sangat unik dan khas dengan siger besar berdiri megah di atas bangunan bagian muka .

Sampai sekarang lamban dalom ini ditempati kepala adat Marga Balak secara turun temurun.

            Meskipun berada di perkotaan, fungsi rumah panggung tidak begitu saja hilang. Lamban Dalom Kebandaran Marga Balak berfungsi sebagai tempat rapat, musyawarah, begawi, dan acara-acara adat lain. Di Lamban Dalom ini ada siger yang berusia ratusan tahun, konon sudah ada sebelum Gunung Krakatau meletus. Siger yang terbuat dari bahan perak ini adalah milik kepala adat dan diwariskan secara turun temurun.Siger ini hanyalah salah satu artefak atau peninggalan budaya yang sudah ratusan tahun usianya disimpan oleh Marga Balak. Selain siger ada juga keris, pedang, tombak samurai, kain sarat( kain khas Lampung Pesisir seperti tapis), terbangan( alat musik pukul seperti rebana), dan tala(sejenis alat musik khas Lampung sejenis kulintang) dan salah satunya dinamakan Talo Balak

Cirri-ciri:

Menurut Tim Depdikbud Kalsel, ciri-cirinya :

  1. Atap Sindang Langit tanpa plafon
  2. Tangga Naik selalu ganjil
  3. Pamedangan diberi Lapangan kelilingnya dengan Kandang Rasi berukir

Kontruksi:

            Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan kayu. Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan bahan konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu.

            Sesuai dengan bentuk serta konstruksi bangunan rumah adat Banjar tersebut maka hanya kayulah yang merupakan bahan yang tepat dan sesuai dengan konstruksi bangunannya.

      Bagian kontruksi pokok:

Konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu :

  1. Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk.
  2. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut Anjung.
  3. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi.
  4. Bubungan atap sengkuap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit.
  5. Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan.

Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya.

      Ruangan :

Ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya ialah :

  1. Palatar (pendopo atau teras), ruangan depan yang merupakan ruangan rumah yang pertama setelah menaiki tangga masuk. Ukuran luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter. Palatar disebut juga Pamedangan.
  2. Pacira, yaitu ruang antara (transisi) yang terbagi dua bagian yaitu pacira dalam dan pacira luar. Pacira Dalam berfungsi untuk menyimpan alat pertanian, menangkap ikan dan pertukangan. Kedua pacira ini hanya dibedakan oleh posisinya saja. Pacira Luar tepat berada di muka pintu depan (Lawang Hadapan).
  3. Panampik Kacil, yaitu ruang tamu muka merupakan ruangan yang agak kecil setelah masuk melalui Lawang Hadapan yaitu pintu depan. Permukaan lantainya lebih tinggi daripada lantai palatar. Ambang lantai disini disebut Watun Sambutan. Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.
  4. Panampik Tangah yaitu ruang tamu tengah merupakan ruangan yang lebih luas dari panampik kacil. Lantainya juga lebih tinggi dari ruang sebelumnya. Ambang lantai ini disebut Watun Jajakan.
  5. Panampik Basar atau Ambin Sayup, yaitu ruang tamu utama merupakan ruangan yang menghadapi dinding tengah (Banjar: Tawing Halat). Permukaan lantainya lebih tinggi pula dari lantai sebelumnya. Ambang Lantainya disebut Watun Jajakan, sama dengan ambang lantai pada Panampik Tangah. Luas ruangan 7 x 5 meter.
  6. Palidangan atau Ambin Dalam, yaitu ruang bagian dalam rumah yang berbatas dengan panampik basar. Lantai palidangan sama tinggi dengan lantai panampik basar (tapi ada juga beberapa rumah yang membuat lantai panampik basar lebih rendah dari lantai palidangan). Karena dasar kedua pintu yang ada di tawing halat tidak sampai ke dasar lantai maka watun di sini disebut Watun Langkahan. Luas ruang ini 7 x 7 meter. Di dalam ruangan Palidangan ini terdapat tiang-tiang besar yang menyangga bubungan tinggi (jumlahnya 8 batang). Tiang-tiang ini disebut Tihang Pitugur atau Tihang Guru.
  7. Panampik Dalam atau Panampik Bawah, yaitu ruangan dalam yang cukup luas dengan permukaan lantai lebih rendah daripada lantai palidangan dan sama tingginya dengan permukaan lantai panampik tangah. Ambang lantai ini disebut pula dengan Watun Jajakan. Luas ruang 7 x 5 meter.
  8. Padapuran atau Padu, yaitu ruangan terakhir bagian belakang bangunan. Permukaan lantainya lebih rendah pula dari panampik bawah. Ambang lantainya disebut Watun Juntaian. Kadang-kadang Watun Juntaian itu cukup tinggi sehingga sering di tempat itu diberi tangga untuk keperluan turun naik. Ruangan padapuran ini dibagi atas bagian atangan (tempat memasak) dan salaian (tempat mengeringkan kayu api), pajijiban dan pagaduran (tempat mencuci piring atau pakaian). Luas ruangan ini adalah 7 x 3 meter.

Ukuran:

            Tentang ukuran tinggi, lebar dan panjang setiap rumah adat Banjar pada umumnya relatif berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh karena ukuran pada waktu itu didasarkan atas ukuran depa atau jengkal. Ukuran depa atau jengkal tersebut justru diambil dari tangan pemilik rumah sendiri; sehingga setiap rumah mempunyai ukuran yang berbeda. Ada kepercayaan di sana yang mengatakan bahwa setiap ukuran haruslah dengan hitungan yang ganjil bilangan ganjil. Penjumlahan ganjil tersebut tidak saja terlihat di dalam hal ukuran panjang dan lebar, tapi juga sampai dengan jumlah hiasan tangga, anak tangga, layang-layang puncak dan lain-lain. Jikalau diukur, maka panjang bangunan induk rumah adat Banjar pada umumnya adalah 31 meter sedang lebar bangunan induk adalah 7 meter dan lebar anjung masing-masing 5 meter. Lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan; sedangkan jarak lantai terendah rata-rata 1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.

 

  • Rumah limas Sumatra selatan

Rumah Limas sumatera selatan

Cirri khas:

            Rumah Limas merupakan rumah tradisional khas Provinsi Sumatera Selatan. Dari namanya, jelaslah bahwa rumah ini berbentuk limas. Bangunannya bertingkat-tingkat dengan filosofi budaya tersendiri untuk setiap tingkatnya. Tingkat-tingkat ini disebut masyarakat sebagai bengkilas. Apabila Anda bertamu ke salah satu Rumah Limas di wilayah Sriwijaya ini, Anda akan diterima di teras atau lantai dua saja. Rumah Limas sangat luas dan seringkali digunakan sebagai tempat berlangsungnya hajatan atau acara adat. Luasnya mulai dari 400 hingga 1000 meter persegi. Bahan material dalam membuat dinding, lantai, serta pintu menggunakan kayu tembesu. Sementara untuk tiang rumah, pada umumnya menggunakan kayu unglen yang tahan air. Berbeda dengan rangka rumah yang terbuat dari kayu Seru. Kayu ini cukup langka. Kayu ini sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah Rumah Limas, sebab kayu Seru dalam kebudayaannya dilarang untuk diinjak atau dilangkahi. Nilai-nilai budaya Palembang juga dapat Anda rasakan dari ornamen ukiran pada pintu dan dindingnya. Selain berbentuk limas, rumah tradisional Sumatera Selatan ini juga tampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiangnya yang dipancang hingga ke dalam tanah. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis lingkungannya yang berada di daerah perairan.

            Adat yang kental sangat mendasari pembangunan Rumah Limas. Tingkatan yang dimiliki rumah ini disertai dengan lima ruangan yang disebut dengan kekijing. Hal ini menjadi simbol atas lima jenjang kehidupan bermasyarakat, yaitu usia, jenis, bakat, pangkat dan martabat. Detail setiap tingkatnya pun berbeda-beda.

            Pada tingkat pertama yang disebut pagar tenggalung, ruangannya tidak memiliki dinding pembatas, terhampar seperti beranda saja. Suasana di tingkat pertama lebih santai dan biasa berfungsi sebagai tempat menerima tamu saat acara adat. Kemudia kita beranjak ke ruang kedua. Jogan, begitu mereka menyebutnya, digunakan sebagai tempat berkumpul khusus untuk pria. Naik lagi ke ruang ketiga yang diberi nama kekijing ketiga. Posisi lantai tentunya lebih tinggi dan diberi batas dengan menggunakan penyekat. Ruangan ini biasanya untuk tempat menerima para undangan dalam suatu acara atau hajatan, terutama untuk handai taulan yang sudah separuh baya. Beranjak ke kekijing keempat, sebutan untuk ruang keempat, yang memiliki posisi lebih tinggi lagi. Begitu juga dengan orang-orang yang dipersilakan untuk mengisi ruangan ini pun memiliki hubungan kekerabatan lebih dekat dan dihormati, seperti undangan yang lebih tua, dapunto dan datuk. Nah, ruang kelima yang memiliki ukuran terluas disebut gegajah. Didalamnya terdapat ruang pangkeng, amben tetuo, dan danamben keluarga. Amben adalah balai musyawarah. Amben tetuo sendiri digunakan sebagai tempat tuan rumah menerima tamu kehormatan serta juga menjadi tempat pelaminan pengantin dalam acara perkawinan. Dibandingkan dengan ruang lainnya, gegajah adalah yang paling istimewa sebab memiliki kedudukan privasi yang sangat tinggi. Begitulah setiap ruang dan tingkatan Rumah Limas yang memiliki karakteristiknya masing-masing.

Garis Keturunan

            Tingkat atau kijing yang dimiliki Rumah Limas menandakan garis keturunan asli masyarakat palembang. Dalam kebudayaannya, dikenal tiga jenis garis keturunan atau kedudukan seseorang, yaitu Kiagus, Kemas dan atau Massagus, serta Raden. Tingkatan atau undakannya pun demikian. Yang terendah adalah tempat berkumpul golongan Kiagus. Selanjutnya, yang kedua diisi oleh garis keturunan Kemas dan atau Massagus. Kemudia yang ketiga, diperuntukkan bagi golongan tertinggi yaitu kaum Raden.

            Di sisi lain, hiasan atau ukiran yang ada di dalam Rumah Limas pun memiliki simbol-simbol tertentu. Jika Anda melihat dengan seksama ke dalamnya, akan terlihat ornamen simbar atau tanduk pada bagian atas atap. Simbar dengan hiasan Melati melambangkan mahkota yang bermakna kerukunan dan keagungan rumah adat ini. Tanduk yang menghiasi atap juga bermakna tertentu sesuai dengan jumlahnya.

Bahan bangunan:

Kebanyakan rumah limas luasnya mencapai 400 sampai 1000 meter persegi atau lebih, yang didirikan diatas tiang-tiang dari kayu unglen atau ulin yang kuat dan tahan air. Dinding, pintu dan lantai umumnya terbuat dari kayu tembesu. Sedang untuk rangka digunakan kayu seru. Setiap rumah, terutama dinding dan pintu diberi ukiran. (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/).

Standar

PROGRESS 10

DI PROGRESS 10 SAYA MEREVIEW SEMUA EKSPLORASI TERMASUK JUGA FUNITURE-FUNITURE YANG ADA DI RUANG TIDUR DAN LOBBY.

EXSITING RUANG TIDUR

428276_14041615080019093618_STD

DARI EXSISTING RUANG TIDUR INI SAYA MULAI MENGEXSPLORASI RUANGAN INI SESUAI DENGAN KONSEP YANG SAYA PILIH YAITU NATURAL MODERN. MULAI DARI EXSISTING DENAH RUANG TIDUR

DENAH RUANG TIDUR

20141028_165726

TERLIHAT DENAH YANG SAYA EXSPOLARI HANYA MATERIAL DAN FINISING ELEMEN SAMPING BAWAH DAN ATAS, DAN TIDAK MERUBAH POSISI BUKAAN JENDELA MAUPUN PINTU.

PERSEFEKTIF RUANG TIDUR

20141020_161902

TERLIHAT EXSPLORASI PADA BAGIAN ELEMEN SAMPING YANG BERISI TEMPELAN KAYU

20141020_161834

BAGIAN INI BERADA PADA BAGIAN DEPAN BED

EXSISTING LOBBY

Untitled-2 copy

EXSPLORASI LOBBY

DENAH

20141104_161205

PERSEFEKTIF

20141104_150912

TAMPAK LOBBY

1

2

FUNITURE RUANG TIDUR

HF

CVCC

FUNITURE LOBBY

3

1

2

Standar

PROGRESS 9

PADA PROGRESS 9 INI SAYA LEBIH MENJELASKAN TENTANG FUNITURE YANG ADA DI RUANG TIDUR DAN LOBBY DENGAN DIMENSI YANG SUDAH ADA. FUNITURE YANG DIGUNAKAN PADA RUANG TIDUR INI LEBIH DOMINAN MENGUNAKAN MATERIAL KAYU DENGAN GAYA FUNITURE MODERN DIMANA PEMILIHAN BAHAN TERSEBUT DI PILIH AGAR SESUAI DENGAN KONSEP YANG SAYA TELAH BUAT SEBELUMNYA.

FUNITURE RUANG TIDUR

HF

FUNITURE BED DAN KURSI PADA RUANG TIDUR YANG MENGUNAKAN MATERIAL KAYU DENGAN TEKSTUR HALUS DAN MENGUNAKAN GAYA MODERN PADA BENTUK FUNITURE TERSEBUT.

CVCC

INI JUGA TERMASUK FNITURE RUANG TIDUR SEPERTI SODA YANG BERADA DI DEPAN BED, MEJA LAMPU, YANG SEMUA MENGUNAKAN MATERIAL KAYU DENGAN BENTUK MODERN ,

FUNITURE LOBBY

1

GAMBAR SOFA  DAN PAS BUNGA YANG TERDAPAT PADA LOBBY YANG MEMBERI KESAN INDAH PADA RUANGAN DENGAN MATERIAL KAYU DI TAMBAH DENGAN BANTAL DENGAN BERMACAM WARNA CERAH YANG AKAN MEMBERI KESAN SEMANGAT PADA TAMU YANG SEDANG BERADA DI LOBBY INI.

2

GAMBAR DIATAS YAITU FUNITURE MEJA YANG BERADA DI LOBBY DAN TERDAPAT BINGKAI YANG BERISI LUKISAN UNTUK MEMBERI KESAN INDAH PADA RUANGAN TERSEBUT.

Standar

PROGRESS 7

PROGRESS 7 AKAN AKAN MENAMPILKAN TAMPAK PADA LOOBY YANG AKAN MEMPERLIHATKAN SUASANA RUANG PADA LOBBY TERSEBUT, DAN MEMPERLIHATKAN LEBIH DETAIL TEMPELAN YANG DI GUNAKAN PADA ELEMEN SAMPING

TAMPAK LOBBY

1

INI TAMPAK LOBBY YANG MEMPERLIHATKAN TEMPELAN KAYU PADA ELEMEN SAMPING YANG SESUAI DENGAN KONSEP INTERIOR , DAN MEMPERLIHATKAN FUNITURE YANG ADA PADA LOBBY TERSEBUT MEMAKAI BAHAN DARI KAYU KHUSUSNYA PADA SOFA DENGAN GAYA MODERN, DAN DI TMBAH EBUAH TUMBUHAN ALAMI DI SAMPING SOFA TERSEBUT UNTUK MENAMBAH SUASANA NYAMAN PADA RUANG INI.

TAMPAK LOBBY DI BAGIAN RESEPSIONIS

2

PADA BAGIAN INI HANYA SEDIKIT MENJELASKAN TENTANG FUNITURE, DAN LEBIH MENJELASKAN KE BAHAN YANG DI GUNAKAN PADA MEJA RESEPSIONIS YANG MENGUNAKAN TEMPELAN KAYU JATI DENGAN TEKSTUR HALUS DENGAN MEMAKAI WARNA IDENTIK KAYU YAITU COKLAT , DAN PADA BAGIAN ATAS MEJA RESEPSIONIS JUGA MENGUNAKAN BAHAN KAYU YANG FUNGSINYA UNTUK PENEMPATAN LAMPU DOWN LIGHT YANG LANGSUNG MENGARAH PADA MEJA RESEPSIONIS TERSEBUT UNTUK MENAMBAH SUASANA NYAMAN PADA RUANG RESEPSIONIS, DAN ELEMEN SAMPING MEMAKAI FINISING CAT PUTIH YANG DI PADUKAN DENGAN TEMPELAN KAYU YANG AKAN MEMBERI KESAN YANG INDAH PADA LOBBY INI YANG SESUAI DENGAN KONSEP NATURAL MODERN.

Standar

PROGRESS 7

PROGRESS 7 AKAN AKAN MENAMPILKAN TAMPAK PADA LOOBY YANG AKAN MEMPERLIHATKAN SUASANA RUANG PADA LOBBY TERSEBUT, DAN MEMPERLIHATKAN LEBIH DETAIL TEMPELAN YANG DI GUNAKAN PADA ELEMEN SAMPING

TAMPAK LOBBY

1

INI TAMPAK LOBBY YANG MEMPERLIHATKAN TEMPELAN KAYU PADA ELEMEN SAMPING YANG SESUAI DENGAN KONSEP INTERIOR , DAN MEMPERLIHATKAN FUNITURE YANG ADA PADA LOBBY TERSEBUT MEMAKAI BAHAN DARI KAYU KHUSUSNYA PADA SOFA DENGAN GAYA MODERN, DAN DI TMBAH EBUAH TUMBUHAN ALAMI DI SAMPING SOFA TERSEBUT UNTUK MENAMBAH SUASANA NYAMAN PADA RUANG INI.

TAMPAK LOBBY DI BAGIAN RESEPSIONIS

2

PADA BAGIAN INI HANYA SEDIKIT MENJELASKAN TENTANG FUNITURE, DAN LEBIH MENJELASKAN KE BAHAN YANG DI GUNAKAN PADA MEJA RESEPSIONIS YANG MENGUNAKAN TEMPELAN KAYU JATI DENGAN TEKSTUR HALUS DENGAN MEMAKAI WARNA IDENTIK KAYU YAITU COKLAT , DAN PADA BAGIAN ATAS MEJA RESEPSIONIS JUGA MENGUNAKAN BAHAN KAYU YANG FUNGSINYA UNTUK PENEMPATAN LAMPU DOWN LIGHT YANG LANGSUNG MENGARAH PADA MEJA RESEPSIONIS TERSEBUT UNTUK MENAMBAH SUASANA NYAMAN PADA RUANG RESEPSIONIS, DAN ELEMEN SAMPING MEMAKAI FINISING CAT PUTIH YANG DI PADUKAN DENGAN TEMPELAN KAYU YANG AKAN MEMBERI KESAN YANG INDAH PADA LOBBY INI YANG SESUAI DENGAN KONSEP NATURAL MODERN.

Standar